Thursday, October 27, 2016

MAKALAH BELAJAR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
      Dalam kegiatan sehari – hari baik secara disadari atau tidak kita pasti mengalami sebuah kegiatan yaitu belajar. Belajar secara teori maupun praktek dari lingkungan sekitar. Belajar mengerti arti kehidupan dan belajar menjadi semakin baik. Anak – anak kecil pun belajar bagaimana cara mereka berjalan dan berkomunikasi dengan baik. Sebagai calon pendidik kita juga dituntut untuk mengetahui tentang arti penting belajar. Karena belajar merupakan masalah yang pasti dihadapi setiap orang. Oleh karena itu di sini kita akan mengupas lebih dalam tentang arti dari kata belajar itu sendiri. Yang diharapkan nantinya akan berguna bagi kita para calon pendidik untuk lebih memahami kegiatan beajar mengajar ini dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari bagi peserta didik kita.


1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa definisi belajar ?
2.      Apa saja faktor – faktor yang mempengaruhi proses belajar ?
3.      Bagaimana proses belajar itu berlangsung ?
4.      Apa saja teori – teori tentang belajar ?
5.      Bagaimana cara belajar yang baik dan hasil belajar yang lebih efisien ?

1.3  Tujuan Penulisan
1.      Mengerti berbagai definisi tentang belajar .
2.      Mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi proses belajar .
3.      Mengerti cara – cara keberlangsungan proses belajar terjadi .
4.      Mengetahui konsepsi dan macam – macam teori tentang belajar .
5.      Mengerti cara belajar yang baik dan efisien sehingga hasil belajar menjadi maksimal .
BAB II
PEMBAHASAN

Banyak ahli yang telah mendefinisikan apa itu belajar . Di antaranya adalah definisi yang diungkapkan oleh :[[1]]
Hilgard dan Bower , bukunya Theories of Learning ( 1975 ) mengemukakan . “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang – ulang dalam situasi itu , di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan , kematangan , atau keadaan – keadaan sesaat seseorang ( misalnya kelelahan , pengaruh obat dan sebagainya ) .”
Gagne , dalam bukunya The Conditions of Learning ( 1977 ) menyatakan bahwa : “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya ( performance – nya ) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi .”
Morgan , dalam bukunya Introduction to Psykology ( 1978 ) mengemukakan : “Belajar adalah setiap perubahan yang relatif rmenetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman .”
Witherington , dalam buku Educational Psykology mengemukakan “Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan , sikap , kebiasaan , kepandaian atau suatu pengertian .”

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa :[[2]]
1.      Belajar itu membawa perubahan baik aktual maupun potensial .
2.      Perubahan itu didapatkan dari kecakapan baru .
3.      Perubahan itu terjadi karena usaha ( dengan sengaja ) .

A.    Faktor – faktor  yang mempengaruhi proses belajar .
Ada berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari proses belajar .[[3]]
1.      Faktor dari luar
a.       Lingkungan
1.      Alam : keadaan udara , suhu udara , cuaca
2.      Sosial : Suasana gaduh , nyanyian
b.      Instrumental
1.      Kurikulum / bahan pelajaran
2.      Guru / pengajar
3.      Sarana dan Fasilitas
4.      Administrasi / Manajemen
2.      Faktor dari dalam
a.       Fisiologi
1.      Kondisi Fisik : nutrisi yang cukup dimiliki seseorang , kebugaran jasmani
2.      Kondisi Panca indera : dilakukan penjagaan dengan cara pemeriksaan dokter secara periodik , penyediaan alat yang memenuhi persyaratan
b.      Psikologi
1.      Bakat
2.      Minat
3.      Kecerdasan
4.      Motivasi
5.      Kemampuan kognitif


B.     Cara – cara proses belajar berlangsung
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran tentu mempunyai urutan langkah – langkah demi memperlancar dan mempermudah proses belajar sesuai dengan perkembangan anak . Langkah – langkah tersebut di antaranya adalah sebagai berikut :
1.      Belajar dan kematangan
Kematangan adalah suatu proses pertumbuhan organ – organ yang mana telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya masing – masing dan ini terjadi dari rangsangan dalam diri manusia secara sendirinya . Sedangkan belajar membutuhkan kegiatan yang kita sadari yang ini terjadi karena rangsangan dari luar .[[4]] 
2.      Belajar dan penyesuaian diri
a.       Dalam hal ini terdapat dua macam penyesuaian diri yaitu :
            Penyesuaian diri autoplastis , seseorang mengubah dirinya disesuaikan dengan       keadaan lingkungan / dunia luar .
b.      Penyesuaian diri alloplastis, mengubah lingkungan atau dunia luar disesuaikan dengan kebutuhan dirinya .[[5]]
Dari dua jenis penyesuaian ini sangat berhubungan erat dengan belajar karena belajar memerlukan proses penyesuaian dan dalam penyesuaian juga dibutuhkan sebuah latihan – latihan yang eratkaitannya dengan proses belajar . Jadi , sama artinya dengan adanya simbiosis mutualisme antar keduanya .
3.      Belajar dan pengalaman
Mengalami sesuatu belum tentu merupakan belajar tapi tiap – tiap kegiatan  dari belajar berarti juga mengalami . Contoh kegiatan yang bukan belajar adalah mengalami sesuatu yang menyedihkan dapat menimbulkan apatis dan kesedihan . Jadi , ketika kita belajar sesuatu itu merupakan pengalaman yang sedang kita dapat dapatkan . Namun ketika kita mengalami sesuatu belum tentu itu merupakan sebuah proses belajar . Di sini dapat diambil kesimpulan bahwa dalam proses belajar tentu akan ada sebuah pengalaman . Yang pengalaman – pengalaman itu apabila dimanfaatkan dengan baik akan memberikan efek positif pada proses belajar .
4.      Belajar dan bermain
Bermain dan belajar memiliki kesamaan yaitu sama – sama merubah tingkah laku dari seseorang . Antara keduanya terdapat pula perbedaan , menurut sifatnya yaitu jika bermain hanya untuk kepuasan sesaat sedangkan belajar mempunyai tujuan untuk masa depan .
5.      Belajar dan pengertian
Dalam proses belajar saat ini kebanyakan dari kita mengira bahwa jika kita mengerti tentang sesuatu pasti kita akan berhasil dalam proses belajar padahal belum tentu seperti itu .
Contohnya saja yang terjadi pada kucing ketika dia latihan menangkap mangsa , awalnya dia tidak tau hal apa yang dia lakukan dan untuk tujuan apa . Dia hanya selalu melakukan hal itu secara terus menerus . Dan dia akan mengerti ketika dia semakin tumbuh besar .[[6]]
6.      Belajar dan menghafal
Menghafal dan mengingat ternyata bukan merupakan suatu proses menghafal hal ini dikarenakan dalam menghafal dan mengingat saja tanpa kita mengerti apa maksud dan tujuan dari menghafal tersebut maka kita akan mudah lupa dan tidak tau manfaat apa yang akan kita dapat nantinya setelah kita hafal akan sesuatu tersebut . Karena dari suatu proses belajar pula akan menimbulkan perubahan tingkah laku sehingga apabila kegiatan menghafal dan mengingat itu tidak memberikan efek perubahan maka tidak disebut sebagai kegiatan belajar .
7.      Belajar dan latihan
Persamaan dari dua hal ini adalah sama – sama dapat merubah tingkah laku seseorang namun dalam hal belajar belum tentu semuanya perlu latihan , misalnya anak yang menyentuh api akan merasa panas dan sejak itu dia tau bahwa api itu panas hal ini tidak perlu latihan untuk keberhasilan proses belajar hanya perlu pengertian saja .[[7]]
Sedangkan menurut para pakar ada beberapa tahapan dalam proses belajar .
1.      Menurut Jerome S . Bruner
Ada 3 tahapan
1.      Tahap informasi ( tahap penerimaan materi )
2.      Tahap transformasi ( tahap pengubahan materi )
3.      Tahap evaluasi ( tahap penilaian materi )
2.      Menurut Arno F . Wittig
Dalam bukunya psychology of learning , menyebutkan ada 3 tahapan dalam proses belajar yaitu :
1.      Acquisition ( tahap perolehan / penerimaan informasi )
2.      Storage ( tahap penyimpanan informasi )
3.      Retrieval ( tahap mendapatkan kembali informasi )
3.      Menurut Albert Bandura
Menurutnya ada 4 tahapan dalam belajar
1.      Tahap perhatian ( attentional phase )
2.      Tahap penyimpanan dalam ingatan ( retention phase )
3.      Tahap reproduksi ( reproduction phase )
4.      Tahap motivasi ( motivation phase )



C.    Teori – teori tentang belajar
1.       Connectionism ( Koneksinisme )
Teori ini ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike berdasarkan eksperimen yang dilakukan tahun 1980 – an . Melalui Eksperimen ini dapat disimpulkan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon . Di sini ditemukan pula adanya 3 hukum yang berlaku dalam proses belajar yaitu law of effect , law of readiness dan law of exercise .[[8]]
2.      Classical Conditioning ( Pembiasaan klasik )
Teori ini berkembang berdasarkan hasil ekspesimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov ( 1849 – 1936 ) seorang ilmuwan besar Rusia yang mendapatkan Nobel tahun 1909 . Pada dasarnya teori ini merupakan sebuah prosedur penciptaan reflek baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya reflek . Hasil dari percobaan ini dapat diambil 2 kesimpulan hukum yaitu law of respondent conditioning dan law of respondent extinction .
3.      Operant Conditioning ( Pembiasaan Perilaku Respon )
Teori ini diciptakan oleh Burrhus Frederic Skinner ( lahir tahun 1904 ) seorang penganut behaviorisme yang dianggap kontroversi . Respon dalam Operant Conditioning ini terjadi tanpa didahului stimulus melainkan ditimbulkan oleh efek reinforcer , merupakan stimulus namun kehadirannya tidak disengaja .Di sini menghasilkan 2 hukum yaitu law of operant conditioning dan law of operant extinction .
4.      Contigous Conditioning ( Pembiasaan Asosiasi Dekat )
Teori ini mengasumsikan terjadinya peristiwa belajar berdasarkan kedekatan hubungan antara stimulus dan respons yang relevan . Hanya terdapat satu prinsip di dalamnya yaitu kontiguitas yang berarti kedekatan antara stimulus dan respons . Dalam teori ini menjelaskan bahwa peristiwa belajar hanya terjadi sekali bahkan bisa tidak sama sekali dalam seumur hidup . Jadi dalam teori ini semua bersifat mekanis dan otomatis .
5.      Cognitive Theory ( Teori Kognitif )
Teori ini adalah bagian terpenting dari sains kognitif yang memberi kontribusi sangat berarti dalam perkembangan psikologi belajar . Di sini belajar pada asasnya adalah peristiwa mental bukan bersifat jasmaniah meskipun behavioral tampak lebih nyata dalam hamir setiap peristiwa belajar siswa . Menurut teori ini perilaku belajar bukan sekedar peristiwa ikatan antara stimulus dan respons melainkan lebih banyak melibatkan proses kognitif .[[9]]
6.      Social Learning Theory ( Teori Belajar Sosial )
Tokoh utama teori ini adalah Albert Bandura , menurutnya tingkah laku manusia bukan sekedar reflek otomatis antara stimulus melainkan akibat reaksi yang timbul dari hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri . Dalam teori ini menekankan pada belajar sosial dan moral . Pendekatannya pada pembiasaan merespon atau conditioning dan peniruan atau imitation . Conditioning mengenal adanya dua hal yaitu reward dan punishment , serta dalam imitation diharapkan guu dan orang tua memainkan peran menjadi contoh perilaku sosial dan moral .

D.    Cara belajar yang baik dan efisien .
Menurut Rudolf Partner ada sepuluh metode dalam belajar yaitu :[[10]]
1.      Metode keseluruhan kepada bagian
Mempelajari keseluruhan baru mendetail pada bagian – bagiannya . Contohnya dalam memepelajari sebuah buku harus tau dulu urutan bab dan subbabnya baru mengarah pada bab tertentu yang sesuai dengan apa yang akan kita pelajari .

2.      Metode keseluruhan lawan bagian
Metode ini digunakan untuk bahan yang bersifat nonverbal seperti mengetik dan menulis serta digunakan untuk pelajaran yang skopnya tidak terlalu luas seperti menghafal syair .
3.      Metode campuran
Digunakan untuk bahan yang skopnya terlalu luas seperti tata buku , akunting .
4.      Metode resitasi
Merupakan metode pengulangan , metode ini dapat dilakukan bagi bahan verbal maupun nonverbal dengan cara pengerjakan soal – soal .
5.      Angka waktu belajar
Dari eksperimen ternyata periode belajar yang produktif seperti mengetik dan mengerjakan soal hitungan adalah jangka waktu 20 – 30 menit . Sementara waktu lebih dari 30 menit digunakan untuk belajar sesuatu yang memerlukan perhatian . Namun jangka ini bisa menjadi lebih panjang ketika seseorang minat untuk mempejari sesuatu .
6.      Pembagian waktu belajar
Dari berbagai percobaan , belajar secara terus menerus dalam jangka waktu lama tanpa istirahat akan tidak efisien dan efektif . Dalam hal ini hukum Josh diakui kebenarannya yaitu belajar selama 30 menit 2x sehari selama 6 hari lebih baik daripada belajar 6 jam tanpa berhenti .
7.      Membatasi kelupaan
Kelupaan bisa diatasi dengan selalu mengulang pelajaran yang telah kita pelajari .
8.      Menghafal
Metode ini praktis untuk dapat mengusai bahan – bahan yang luas dalam waktu yang singkat seperti untuk menghadapi ujian namun metode ini sebenarnya kurang baik karena akan mudah terlupakan setelah ujian selesai .
9.      Kecepatan belajar dalam hubungannya dengan ingatan
Hasil eksperimen yang pernah dilakukan tidak mempunyai cukup bukti untuk menolak atau membenarkan hal ini namun untuk bahan pelajaran yang kurang mempunyai arti metode inii dapat digunakan .
10.  Retroaktif inhibition
Retroaktif inhibition merupakan pengetahuan yang ada dalam diri kita seolah – olah merupakan unit yang selalu berkaitan satu sama lain sehingga sering pula satu mendesak yang lain . Sehingga dalam hal ini untuk menghindarinya disarankan untuk tidak mempelajari berbagai mata pelajaran dalamsatu waktu sehingga diperlukan jadwal yang  pasti .
Menurut Crow and Crow untuk mendapat hasil belajar yang efisien dibutuhkan hal – hal sebagai berikut :[[11]]
1.      Miliki dahulu tujuan belajar yang pasti.
2.      Usahakan adanya tempat belajar yang memadai.
3.      Jaga kondisi fisik jangan sampai mengganggu konsentrasi dan keaktifan mental.
4.      Rencanakan dan ikutilah jadwal waktu untuk belajar
5.      Selingilah belajar dengan waktu – waktu istirahat yang teratur
6.      Carilah kalimat topik atau inti pengertian dari tiap paragraph
7.      Gunakan metode pengulangan dalam hati
8.      Lakukan metode keseluruhan bila mungkin yaitu membaca buku yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari.
9.      Usahakan membaca cepat dan cermat.
10.  Buat catatan dan rangkuman yang tersusun rapi.
11.  Adakan penilaian kesulitan bahan untuk dipelajari lebih lanjut
12.  Susun dan buat pertanyaan yang tepat llu coba cari jawabannya
13.  Pusatkan perhatian dengan sungguh – sungguh waktu belajar
14.  Pelajari dengan teliti tabel – tabel , grafik – grafik dan bahan ilustrasi lainnya
15.  Biasakan buat rangkuman dan kesimpulan.
16.  Buat kepastian untuk melengkapi tugas – tugas belajar itu
17.  Pelajari baik – baik pernyataan yang dibuat oleh pengarang suatu buku sumber.
18.  Teliti pendapat beberapa pengarang jika diperlukan.
19.   Belajarlah menggunakan kamus dengan sebaik – baiknya.
20.  Analisislah kebiasaan belajar yang dilakukan dan cobalah untuk memperbaiki kelemahan - kelemahannya

BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Belajar merupakan sebuah proses yang mampu merubah tingkah laku seseorang yang memerlukan sebuah proses secara terus menerus . Dalam hal ini banyak sekali faktor – faktor yang mempengaruhi proses belajar sehingga diperlukan banyak latihan dan konsentrasi . Kita juga perlu mengetahui berbagai teori – teori tentang belajar sehingga menambah wawasan kita bagaimana cara belajar yang mampu membantu kita mendapatkan hasil yang maksimal. Yang sangat diharapkan setelah kita belajar tidaklah hanya menguasai teorinya saja, tetapi bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat membuat kehidupan kita lebih baik.

3.2  Saran
Diharapkan mahasiswa dapat mempraktikkan proses belajar yang sesuai dengan cara-cara belajar yang efektif, agar lebih mudah memahami teori-teori yang akan dipelajari.


DAFTAR PUSTAKA

Suryabrata Sumadi, 2004, Psikology Pendidikan, Jakarta : Raja Grafindo Persada Purwanto Ngalim, 2007, Psikology Pendidikan . Bandung : Remaja Rosdakarya
Syah Muhibbin, 2003 , Psikologi Pelajar . Jakarta : Raja Grafindo Persada





[[1]] M. Ngalim Purwanto , Psikology Pendidikan , ( Bandung : Rosdakarya , 2007 ) , hal . 84
[[2]] Sumadi Suryabrata , Psikology Pendidikan , ( Jakarta : Raja Grafindo Persada , 2004 ) , hal . 232

[[3]] M. Ngalim Purwanto , Psikology Pendidikan , ( Bandung : Rosdakarya , 2007 ) , hal . 107

[[4]] M. Ngalim Purwanto , Psikology Pendidikan , ( Bandung : Rosdakarya , 2007 ) , hal . 86
[[5]]M. Ngalim Purwanto , Psikology Pendidikan , ( Bandung : Rosdakarya , 2007 ) , hal . 87

[[6]] M. Ngalim Purwanto , Psikology Pendidikan , ( Bandung : Rosdakarya , 2007 ) , hal . 88

[[7]] Muhibbin Syah , Psikologi Belajar , ( Jakarta : Raja Grafindo Persada , 2003 ) , hal . 110

[[8]]Muhibbin Syah , Psikologi Belajar , ( Jakarta : Raja Grafindo Persada , 2003 ) , hal . 94

[[9]]Muhibbin Syah , Psikologi Belajar , ( Jakarta : Raja Grafindo Persada , 2003 ) , hal .103 ,105
[[10]]M. Ngalim Purwanto , Psikology Pendidikan , ( Bandung : Rosdakarya , 2007 ) hal . 113 - 116
[[11]] M. Ngalim Purwanto , Psikology Pendidikan , ( Bandung : Rosdakarya , 2007 ) ,  hal . 120 - 121
Previous Post
Next Post

About Author

0 comments: