Thursday, October 27, 2016

Kerajaan Safawi

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Serangan Mongol telah mengakibatkan runtuhnya khilafah Abbasiyah di Baghdad. Secara drastis, Kekuatan politik Islam mengalami kemunduran, beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam serta pusat-pusat kekuasaan Islam pun dihancurkan.

Kekuasaan politik Islam mulai mengalami kemajuan kembali setelah munculnya tiga kerajaan besar yaitu Usmaniyah (kerajaan terbesar yang pertama berdiri dan paling lama betahan) di Turki,[1]  dengan pusat kekuasaannya di konstantinopel (Istambul),[2] kerajaan Mughal di India dan Safawi di Persia (Iran). Kerajaan Safawi merupakan kerajaan besar yang kedua dir, Kerajaan ini berasal dari sebuah gerakan tarekat yaitu tarekat Safawiyah dengan pendirinya Syekh Safiuddin Ishaq (650 H/1252 M- 735 H/1335 M) pada tahun 1300-an di Ardabil.
Berawal dari Tarekat Safawiyah, maka lahirlah sebuah kerajaan besar di Persia yaitu Kerajaan Safawi dengan pendirinya Syeh Isma’il I pada tahun 907 H/1501 M di Tabriz, Iran.[3] Kerajaan ini mempunyai pengaruh besar di Persia, karena kerajaan ini sangat fanatik terhadap ajaran agama. Dengan berdirinya kerajaan ini maka akan memudahkan mereka untuk memperluas ajaran mereka terhadap paham syi’ah.
B.     Pembatasan Masalah
Makalah ini terdiri dari beberapa pembahasan yang sesuai dengan judul makalah yaitu Kerajaan Safawi di Persia. Pembahasan makalah ini terdiri dari beberapa rumusan masalah yaitu:
1.      Sejarah berdirinya Kerajaan Safawi
2.      Perkembangan dan kemajuan Kerajaan safawi
3.      Para penguasa Kerajaan Safawi
4.      Sebab runtuhnya Kerajaan Safawi
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui perkembangan sejarah Islam di Persia (Iran) terutama pada masa Kerajaan Safawi dari berdiri, berkembang dan runtuh.
BAB II
PEMBAHASAN
KERAJAAN SAFAWI DI PERSIA

A.     Sejarah Kerajaan Safawi di Persia
Pada waktu keturunan Timurlenk masih berkuasa di negeri Ardabil sebuah kota Azerbeijan, telah muncul sebuah gerakan tasawuf yang tekun dalam ajaran agama. Tujuannya untuk memerangi orang yang ingkar dan memerangi golongan yang dinamai dengan ahli bid’ah[4], serta mengislamkan orang Mongol yang menganut agama Budha.[5] Gerakan tasawuf tersebut adalah sebuah Tarekat yaitu tarekat Safawiyah.
Kerajaan Safawi merupakan salah satu dari tiga kerajaan besar yang berkembang pada abad pertengahan yaitu Usmaniyah, Safawiyah dan Mughol. Ketika kerajaan Usmani sudah mulai mengembangkan sayapnya, kerajaan safawi mulai berdiri, Kerajaan ini muncul di Persia pada abad ke 16-18. Dalam perkembangannya kerajaan ini sering terjadi bentrok dengan Turki Usmani.
 Kerajaan ini dapat dihubungkan dengan Syekh Ishaq Safiuddin yang merupakan pendiri dari Tarekat Safawiyah di Persia Barat Laut.[6] Syekh Ishaq Safiuddin tidak hanya sebagai guru tarekat saja, tetapi Ia juga seorang pedagang dan politisi. Ia sendiri adalah orang sunni, kekuasaannya tidak hanya terbatas di Ardabil saja, tetapi juga terbentang dari wilayah Oxus sampai Persia. Gerakan yang berusaha memerangi orang yang Ingkar dan ahli Bid’ah ini semakin lama semakin besar dan meluas serta pengikutnya semakin banyak.
Semakin berkembangnya zaman murid-murid tarekat safawiyah berubah dan beralih menjadi tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaannya dan menentang siapa saja yang tidak mengikuti kepercayaannya, semakin lama mereka semakin mengatur kekuasaan dan disiplin, sehingga menimbulkan kecurigaan di pihak kerajaan yang berkuasa.[7]Akibatnya menimbulkan keinginan ingin berkuasa dikalangan para pengikutnya.[8]
Berkat pengaruh kuat tarekat safawiyah dan setelah berjuang mengalahkan berbagai suku bangsa yang berada di Persia terutama suku mongol yaitu Kara Koyunlu dab Aga Koyunlu, Syaikh Isma’il Memproklamasikan dirinya sebagai raja yang pertama pada tahun 1501 dan menetapkan mazhab Syi’ah sebagai mazhab tetap kerajaannya.[9] Kerajaan ini berusaha untuk memperluas paham Syi’ah di Iran dengan membentuk sebuah dinasti, mengkonsolidasikan paham Syi’ah dua belas dan mendatangkan kedua belas ulama syiah yang berasal dari Syiria, Bahrain, Arabia Utara dan Iraq bahkan mendirikan madrasah Syi’ah pertama di Iran.[10]

B.     Kemajuan Kerajaan Safawi
Ada beberapa kemajuan kerajaan safawi, baik dalam bidang politik, ilmu pengetahuan, ekonomi dan dalam bidang industri.
·         Kemajuan dalam bidang politik
Para penguasa kerajaan safawi berhasil menyatukan wilayah-wilayah Persia, karena sebelumnya wilayah-wilayah Persia terpecah dalam berbagai dinasti kecil yang bertebaran dimana-dimana sehingga keberhasilan ini merupakan kebangkitan nasionalisme persia.
Pada masa Ismail I yang merupakan pendiri kerajaan Safawi, Ismail beserta pasukannya menyiapkan pasukan dan kekuatan yang bermarkas di Gilan. Pasukan itu disebut Qizilbash (baret merah). Pada tahun 1501 M, pasukan ini menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu (domba putih) di sharur dekat Nakh Chivan dibawah pimpinan Ismail. Qizilbash berhasil menaklukkan dan menduduki Tabriz yang merupakan ibu kota AK Koyunlu. Dan di kota inilah Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama kerajaan Safawi. Ia disebut juga Ismail I  yang berkuasa kurang lebih 23 tahun antara 1501-1524 M. Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan menghancurkan sisa-sisa kekuatan AK Koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi Kaspia di Nazandaran, Baghdad dan daerah Barat daya Persia (1508 M), Sirwan (1509 M) dan Khurasan. Hanya dalam waktu sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent) .[11]  Ismail I berhasil mempertahankan eksistensi kerajaannya dan wafat pada tahun 1524 M/930 H.
Dua raja yang memerintah kerajaan Safawi berikutnya adalah Syah Isma’il II dan Syah Muhammad Khudabandah, tetapi kedua raja tersebut kurang mampu mengatasi perselisihan antar kelompok dalam barisannya, sehingga kerajaan Safawi agak mundur dan kekuasaannya berkurang
Selain Isma’il, ada juga sultan-sultan besar yaitu Tahmasp I dan Syah Abbas yang juga berjasa dalam membawa kerajaan Safawi menuju puncak kemajuan dan kejayaan. Syah Abaas memimndahkan Ibu kota kerajaan Qizwan ke Isfahan. Setelah Syeh Abbas tidak ada lagi raja-raja Safawi yang kuat, sehingga terjadinya perebutan kekuasaan dan kerajaan menjadi lemah.
·         Kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan
Persia terkenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa dalam mengembangkan Ilmu pengetahuan, tidak heran jika pada masa kerajaan Safawi tradisi keilmuan ini terus berkembang. Ada beberapa ilmuan yang selalu hadir di Istana yaitu Baha Al-Din Al-Syaerazi generalis ilmu pengetahuan, Muhammad Baqir Ibnu Muhammad Damad adalah seorang yang pernah melakukan observasi mengenai kehidupan lebah-lebah, [12]dan berkembangnya filsafat ketuhanan (al-hikmah al-ilahiyyah) merupakan kemajuan dalam bidang tasawuf, ini dapat terlihat dengan tokoh terbesarnya yaitu Mulla Sadra dengan sebutan filasafat pencerahan.[13]
·         Kemajuan dalam bidang Ekonomi
Setelah kepulauan Hurmuz dan pelabuhan Gumrun dikuasai dan diubah menjadi bandar Abbas. Dengan dikuasainya Bandar ini, maka salah satu jalur dagang laut antara Timur dan Barat yang diperebutkan oleh Belanda, Inggris dan Perancis sekarang sepenuhnya menjadi milik kerajaan dan di daerah bulan sabit subur sektor pertanian mengalami kemajuan.[14]
·         Kemajuan dalam bidang Industri
Dalam bidang industri berhasil membangun proyek-proyek mencusuar seperti Istana, Masjid, jembatan besar, taman, dan lain-lain. Selain itu juga telah berhasil memajukan industri permadani, brokad (kain sutera), porselein, seni lukis, dekorasi dan seni arsitektur.[15]
C.     Penguasa-penguasa Kerajaan Safawi
Di bawah ini merupakan penguasa-penguasa kerajaan Safawi di Persia
1.      Syah  Isma’il I (1501-1524 M). merupakan tokoh yang memprakarsai atau pendiri kerajaan Safawi dan berkuasa selama 23 tahun.[16]
2.      Tahmasp I (1524-1576 M). yang merupakan raja kedua kerajaan Safawi, beliau cukup lama memerintah yaitu selama 52 tahun dan  meninggal pada tanggal 14 Mei 1976.
3.      Isma’il II (1576-1577 M), merupakan putera Tahmasp yang kedua, Ia pernah memimpin peperangan melawan bangsa Turki Usmani.
4.      Muhammad Khudabanda (1577-1587 M), merupakan putera tertua dari Tahmasp. Pada awal pemerintahannya, Ia menangkap Ratu Peri Khan Hanim yang dianggapnya mush besarnya yang menghalang-halangi kenaikan tahtanya.
5.      Abbas I (1587-1628 M) , pada usianya yang ke-17 tahun, Ia naik tahta kerajaan  dan diberi gelar Abbas Syah yang agung. Pada saat kepemimpiannya, Ia selalu mendaptkan serangan dari orang-orang Turki.
6.      Safi Mirza (1628-1642 M) merupakan Syah yang lemah dalam pemerintahan, namun sangat kejam kepada musuh besarnya dan sangat pencemburu
7.      Abbas II (1642-1667 M), Ia naik tahta pada usia 10 tahun. Pada masa pemerintahannya kerajaan Iran kembali makmur dan bahagia.
8.      Sulaiman (1667-1694 M), Syeh Sulaiman ini tidak mempunyai perhatian terhadap masalah pemerintahan dan gemar minum Khamer dan wanita.
9.       Husein I (1694-1722 M), merupakan seorang Raja yang baik hati, lemah lembut dan religius.
10.   Tahmasp II (1722-1732 M)
11.  Abbas III (1732-1736 M)

D.    Pemerintahan Kerajaan Safawi
Struktur organisasi pemerintahan kerajaan safawi secara administratife dapat dibagi menjadi dua yaitu vertikal dan horizontal. Secara horizontal yaitu pembagian organisasi pemerintahan berdasarkan garis kesukuan/kedaerahan. Sedangkan secara vertikal terdiri dari dua jenis yaitu istana (dargah) dan secretariat Negara (divan atau mamalik). Dari segi kesukuan, Qizilbasy telah menjelma sebagai kelompok bangsawan dalam pemerintahan militer Kerajaan Safawi. Qizilbasy merupakan suku keturunana turki yang dijadikan sebagai tulang punggung Kerajaan Safawi di Persia.
Struktur pemerintahan Kerajaan Safawi terdiri dari tiga fase perkembangan yaitu:
1.      Periode peralihan yaitu terjadinya banyak perubahan dan penyesuaian struktur administrasi pemerintahan ini terjadi pada masa kekuasaan Syeh Isma’il sampai akhir kekuasaan Muhammad Khudabanda (907 H/1501 M-996 H/1588 M). fase ini ditandai dengan menonjolnya pertentangan kesukuan antara keturunan turki dan keturunan Persia. Pada masa ini juga dibentuklah jabatan yang disebut dengan vakil-I nafs-I nafis humayu yaitu jabatan wakil Syah baik sebagai pemimpin politik (padishah), maupun sebagai pemimpin spiritual(mursyid-i kamil).
2.      Kekuasaan Syeh Abbas I (996 H/1588 M-1038 H/1629 M) dengan melakukan penataan kembali sistem administrasi Safawi, seperti melakukan pemusatan kekuasaan dengan pengambilan keputusan yang berada dibawah kekuasaanya.
3.      Masa kemunduran pada masa pemerintahan Syeh Safi yang mengakibatkan jatuhnya kerajaaan Safawi ketangan orang-orang Afghan (1038 H/1629 M-1135 H/1722 M), ini dikarenakan tidak efektifnya system politik dan ekonomi. Pada fase ini jabatan tertinggi disebut dengan mulla-basyi (ketua dewan/majelis ulama) dan wewenan social politik keagamaan yang disebut dengan Sadr (sadarat) sudah berkurang dan hanya mengurusi wakaf dan membantu hakim dalam pengadilan.


E.     Sebab-sebab Runtuhnya Kerajaan Safawi
Pada masa kepemimpinan Syah Syafi’i di kerajaan Safawi menggantikan kakeknya Syah Abbas I yang tidak mampu lagi melanjutkan kerajaan Safawi, dengan sikapnya yang kasar dan otoriter, membawa kerajaan safawi dalam kehancuran.
Pada saat turki usmani berhasil menjatuhkan Baghdad dan merebut Qandahar, Delhi dan Georgis memberontak untuk melepaskan diri. Dan syah Abbas II berusaha untuk mengembalikan kerajaan safawi dengan memerintah secara adil dan berusaha membenahi militer, namun dampak negatif yang diahasilkan oleh ayahnya tidak dapat diatasi.
Pada tahun 1667, Syah Abbas digantikan oleh Syah Sulaiman. Tetapi Syah Sulaiman pun tidak mampu membawa kembali kejayaan kerajaan Safawi. Dan digantikan oleh Syah Husain, namun dengan kelemahan Syah Husain, kerajaan Safawi dapat ditaklukkan oleh pemberontak Afghanistan yang dipimpin oleh Mir Mahmud dan akhirnya kerajaan Safawi lumpuh dan berakhirlah kerajaan Safawi.[17]
Adapun sebab-sebab runtuhnya kerajaan safawi diantaanya yaitu:
1.      Adanya konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani, yang dikarenakan perbedaan paham yang dipegang oleh kerajaan ini.
2.      Kurangnya perhatiannya raja terhadap persoalan social kemasyarakatan dan kenegaraan.[18]
3.      Terjadinya dekandensi moral yang melanda sebagian pemimpin kerajaaan Safawi 
4.      Pasukan ghulam (budak-budak) tidak memiliki semangat perjuangan yang tinggi, karena lemahnya system pemerintahan dinasti Safawi yang diciptakan oleh Syeh Abbas.
5.      Terjadinya konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana.
Selain hal tersebut di atas,pada abad 17 beberapa kalangan Ulama Syiah tidak lagi mau mengakui bahwa Safawiyah telah mewakili pemerintahan sang imam tersembunyi. Pertama, ulama mulai meragukan otoritas Syah yang berlangsung secara turun temurun tersebut sebagai penanggung jawab pertama atas ajaran islam Syiah. Kedua, selaras dengan keyakinan Syi’ah, bahkan semenjak masa keghaiban besar tahun 941 sang imam tersembunyi tidak lagi terwakili di muka bumi oleh Ulama.Selanjutnya Ulama menegaskan bahwasannya Mujtahid menduduki otoritas keagamaan yang tertinggi.
Kehancuran rezim ini juga di sebabkan sejumlah perubahan yang luar biasa dalam hal hubungan negara dan agama. Safawiyah semula merupakan sebuah gerakan, tetapi setelah berkuasa rezim ini justru menekan bentuk bentuk Islam sufi yang cenderung kepada pembentukan lembaga ulama negara.
Krisis abad 18 mengantarkan kepada berakhirnya sejarah Iran pramodern. Hampir diseluruh wilayah muslim, periode pramodern yang berakhir dengan Interfensi, penaklukan bangsa eropa, dan dengan pembentukan beberapa razim kolonial, maka dalam hal ini konsolidasi ekonomi dan pengaruh politik bangsa eropa telah didahului dengan kehancuran Inperium Safawiyah dan dengan liberalisasi ulama. Demikianlah, Rezim safawiyah telah meninggalkan warisan kepada Iran modern berupa tradisi persia perihal sistem kerajaan yang agung, yakni sebuah rezim yang dibangun berdasarkan kekuatan unsur kesukuan yang utama, dan mewariskan sebuah kewenangan keagamaan syiah yang kohesif, monolitik dan mandiri.
BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Dalam pembahasan-pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pada mulanya kerajaan Safawi ini berasal dari gerakan Tarekat Safawiyah, dinamakan Safawiyah karena pendirinya yang bernama  Syekh Ishaq Safiuddin. Awalnya tarekat ini didirikan untuk mengislamkan orang-orang mongaol yang beragama Budha, dengan semakin berkembangnya tarekat ini, maka timbullah keinginan para pengikutnya untuk menjadi penguasa, dan akhirnya mereka menjadi tentara yang teratur dan menentang mazhab yang bukan Syi’ah.
 Kerajaan Safawi mulai mengalami fase peralihan pada masa Isma’il I yang merupakan pendiri pertama kerajaan Safawi dan berhasil mempersatukan kembali wilyah-wilayah Persia yang terpecah menjadi dinasti-dinasti kecil. Tidak hanya kemajuan dalam bidang politik saja, tetapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan dengan berkembangnya filsafat ketuhanan Mulla Sadra, dalam bidang ekonomi dengan dikuasainya pelabuhan Gumrun dan mengubahnya menjadi Bandar Abbas, dalam bidang Industri dan seni dibangunnya proyek mencusuar dan seni lukis. Dengan para penguasanya yaitu Isma’il I, Thamasp, Ismail II, Muhammad Khudabanda, Abbas II, Safi dll.
Struktur pemerintahan kerajaan Safawi terdiri dari tiga fase yaitu fase peralihan, fase pemusatan kekuasaan dan fase kemunduran. Adapun kemunduran kerajaan ini terdiri dari beberapa sebab diantaranya konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani, dekandensi moral para penguasa Kerajaan Safawi, pasukan budak-budak yang tidak memiliki semangat perjuangan dan terjadinya konflik intern dalam memperebutkan kekuasaan.

3.2 Saran
            Diharapkan mahasiswa dapat memahami semua sejarah kerajaan islami lainnya, agar menambah wawasan tentang sejarah islam.



[[1]] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2008. H. 129
[2] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik Perkembanagan Ilmu Pengetahuan Islam. Jakarta: Kencana, 2007, h. 237
[[3]] Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam (Khilafah). Jakarta PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, tt. h. 263
[4] Hamka, Sejarah Umat Islam Jilid III. Jakarta: Bulan Bintang, 1975, h. 58
[5] Didin Saepudin, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press. 2007, h. 178
[6] Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, cet. 2, ed. Revisi. Jakarta: Djambatan, h. 998
[7] Hamka, Sejarah Umat Islam Jilid III. Jakarta: Bulan Bintang, 1975, h. 60
[8] Didin Saepudin, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press. 2007, h. 178
[9] Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, cet. 2, ed. Revisi. Jakarta: Djambatan, 2002, h. 998
[10] Ira M lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta: PT. Grapindo Persada, 1999, h. 456-457
[11] Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, cet. 4. 1997. h.196
[12] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2008. H. 144
[13] Didin Saepudin, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press. 2007, h. 180
[14] Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, cet. 2, ed. Revisi. Jakarta: Djambatan, 2002, h. 999
[15] Didin Saepudin, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press. 2007, h. 178
[16] Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam (Khilafah). Jakarta PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, tt. h. 270-272
[[17]] Didin Saepudin, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press. 2007, h. 178
[[18]] Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam (Khilafah). Jakarta PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, tt. h. 277
Previous Post
Next Post

About Author

0 comments: