Sunday, October 30, 2016

Thursday, October 27, 2016

PENGERTIAN DAN DASAR METODE RESITASI

 PENGERTIAN DAN DASAR METODE RESITASI
                                    PENGERTIAN DAN DASAR METODE RESITASI

Ada beberapa pengertian metode resitasi atau definisi yang dikemukakan oleh para ahli antara lain sebagai berikut:


1.    Menurut Nana Sudjana:
Tugas atau resitasi tidak sama dengan pelajaran rumah tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas dapat merangsang anak untuk lebih aktif belajar baik secara individual maupun kelompok. [[1]]

2.    Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain:
Metode Penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Masalah tugas yang diberikan siswa dapat dilakukan di kelas, di halaman sekolah, di laboratorium, di perpustakaan, di bengkel, di rumah siswa atau dimana saja asal tugas itu dapat dikerjakan. [[2]]

3.    Menurut Mulyani dan Johan Permana. H:
            Metode pemberian tugas atau penugasan diartikan sebagai suatu cara interaksibelajar mengajar yang ditandai dengan adanya tugas dari guru yang dikerjakan peserta didik di sekolah ataupun di rumah secara perorangan atau kelompok.[[3]]

Berdasarkan uraian di atas pengertian metode pemberian tugas adalah suatu cara dari guru dalam proses belajar mengajar untuk mengaktifkan siswa dalam belajar baik di sekolah maupun di rumah dan untuk dipertanggung jawabkan kepada guru.
Dalam Al-Qur’an prinsip metode resitasi dapat dipahami dari ayat yang berbunyi:
إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ ١٧  فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ ١٨
”Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu”.
(QS. Al-Qiyamah: 17-18). [[4]]

Al-Maraghi menafsirkan potongan ayat tersebut di atas sebagai berikut:
قرأناه: اى قرأة جبريل عليك، فاتبع قرأنه: اى فاستمع قرأته وكررها حتى يرسخ فى نفس.][5][
Qara’nahu : dimaksudkan adalah Jibril membacakannya kepadamu
Fattabi’ qur’anah : maksudnya maka dengarkanlah bacaan dan ulang-ulangilah agar ia mantap dalam dirimu.[[6]]

          Ayat tersebut merupakan bentuk pembelajaran al-Qur’an ketika malaikat Jibril memberikan wahyu (al-Qur’an) kepada Nabi Muhammad saw dengan membacakannya, maka Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk mengulanginya, sehingga Nabi hafal dan bacaan tersebut dapat membekas dalam dirinya.


B.     KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METODE RESITASI
1.      Kelebihan Metode Resitasi
Ada beberapa kelebihan metode resitasi menurut para ahli antara lain:

a.       Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain kelebihannya:
1)     Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktifitas belajar individual ataupun
 kelompok.
2)     Dapat mengembangkan kemandirian siswa diluar pengawasan guru.
3)     Dalam membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
4)     Dapat mengembangkan kreatifitas siswa.[[7]]

b.      Menurut Mulyani:
1)      Metode pemberian tugas dapat membuat siswa aktif belajar.
2)      Tugas lebih merangsang siswa untuk lebih banyak, baik waktu dikelas maupun
  diluar kelas atau dengan lain, baik siswa dekat dengan guru maupun jauh dengan
  guru.
3)      Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa yang diperlukan dalam
   kehidupannya.
4)      Tugas lebih meyakinkan tentang apa yang akan dipelajari dari guru, lebih
   memperdalam, memperkaya, atau memperluas pandangan tentang apa yang
  dipelajari.
5)      Tugas dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari dan mengelola sendiri
   informasi dan komunikasi.
6)      Metode ini dapat membuat siswa bergairah dalam belajar karena kegiatan-kegiatan
   belajar dapat dilakukan dengan berbagai variasi sehingga tidak membosankan.
7)      Metode ini dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
8)      Metode ini dapat mengembangkan kreatifitas siswa.[[8]]

2.      Kekurangan Metode Resitasi
  Ada beberapa kekurangan metode Resitasi antara lain :
a)      Siswa sulit dikontrol, apakah benar dia yang mengerjakan tugas ataukah orang lain.
b)      Khusus untuk tugas kelompok, tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik.
c)      Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa.
d)     Sering memberikan tugas yang menonton (tak bervariasi) dapat menimbulkan kebosanan siswa.[[9]]
e)      Seringkali anak didik melakukan penipuan dimana anak didik hanya menitu hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
f)       Terkadang tugas itu dikerjakan orang lain tanpa pengawasan.[[10]]
Dari pengertian diatas tampak bahwa pelaksanaan metode ini banyak menuntut hakekat siswa sebab anak selalu dituntut oleh guru untuk belajar sendiri baik itu untuk materi yang sudah diterangkan ataupun yang belum diterangkan.

C.    Langkah-langkah Metode Resitasi
Ada langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode pembelajaran tugas antara lain :
1.      Fase Pemberian Tugas
Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan :
a.    Tujuan yang akan dicapai
b.      Jenis tugas jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut
c.       Sesuai dengan kemampuan siswa
d.      Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa
e.       Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.

Dalam fase ini tugas yang diberikan kepada setiap anak didik harus jelas dan petunjuk-petunjuk yang diberikan harus terarah.

2.    Langkah Pelaksanaan Tugas
a.       Diberikan bimbingan atau pengawasan oleh guru
b.      Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja
c.       Diusahakan atau dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain
d.      Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang dia peroleh dengan baik dan sistematik

Dalam fase ini anak didik belajar (melaksanakan tugas) sesuai tujuan dan petunjuk-petunjuk guru.

3.    Fase Mempertanggungjawabkan Tugas
a.       Laporan siswa baik lisan atau tertulis dari apa yang telah dikerjakannya
b.      Ada tanya jawab diskusi kelas                     
c.       Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non tes atau cara lainnya

Dalam fase ini anak didik mempertanggungjawabkan hasil belajarnya baik berbentuk laporan lisan maupun tertulis. [[11]]
Karena tugas yang dikerjakan pada akhirnya akan dipertanggung jawabkan maka siswa akan terdorong untuk mengerjakan secara sungguh-sungguh. Dengan metode ini sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu lebih mendalam.

D.    Pelaksanaan Metode Resitasi
Tugas dapat dilaksanakan dalam berbagai kegiatan belajar baik perorangan atau kelompok. Adapun pelaksaan yang ditempuh dalam metode ini antara lain:

1.      Pendahuluan:
Pada langkah ini perlu mempersiapkan mental murid untuk menerima tugas yang akan diberikan kepada mereka pada pelajaran inti, Untuk itu perlu memberikan kejelasan tentang suatu bahan pelajaran yang dilaksanakan dengan metode ini, diberikan contoh-contoh yang serupa dengan tugas jika keterangan telah cukup.

2.      Pelajaran inti:
Guru memberika tugas, murid melaporkan hasil kerja mereka sementara gurumengadakan koreksi terhadap tugas-tugas tersebut, da bila ditemukan kesalahan maka perlu diadakan diskusi.

3.      Penutup:
Pada langkah ini murid bersama guru mengecek kebenaran sementara murid disuruh mengulangi tugas itu kembali.[[12]]



E.     Sifat Bahan Ajar  Metode Resitasi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran pendidikan agama Islam adalah suatu proses yang bertujuan untuk membantu peserta didik dalam belajar agama Islam.[[13]]
Dalam proses belajar mengajar penggunaan satu metode mengajar untuk segala macam tujuan belajar tentunya tidak efektif . Berbeda tujuan, berbeda cara mencapainya. Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam dapat menggunakan berbagai macam metode, antara lain metode resitasi atau metode pemberian tugas.
Metode pemberian tugas adalah metode interaksi edukatif dimana murid diberi tugas khusus (sesuai dengan bahan pelajaran) diluar jam-jam pelajaran. Dalam pelaksanaannya murid-murid dapat mengerjakan tugasnya tidak hanya dirumah, tetapi dapat dikerjakan diperpus, laboratorium, dan lainnya kemudian dipertanggungjawabkan kepada guru.[[14]]
Dalam pendidikan agama Islam, metode interaksi ini sering digunakan, terutama dalam hal-hal yang bersifat praktis misalnya, setelah selesai pelajaran berwudhu (di sekolah) murid-murid ditugaskan untuk melihat, memperhatikan dan menirukan orangtuannya atau orang-orang lain dirumah atau masjid yang sedang berwudhu, kemudian melaporkannya kepada guru di sekolah pada jam pelajaran berikutnya. Atau contoh lain, menjelang hari raya idul fitri guru menerangkan tentang masalah zakat fitrah, kemudian murid ditugaskan untuk membentuk amil zakat yang melaksanakan tugas mengumpulkan zakat fitrah dan membagikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Sesuai pelaksanaan tugas ini mereka harus membuat laporan pertanggungjawaban pelaksanaan tugasnya kepada guru.[[15]]










Metode 2 Critical Incident ( Pengalaman Penting )

Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merobah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Kondisi riil anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik.
Hal ini terlihat dari perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan stretegi pembelajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.
Pembelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan didasarkan pada keinginan guru, akan sulit untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti inilah yang pada umumnya terjadi pada pembelajaran konvensional. Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran seperti ini adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar, sehingga sistem belajar tuntas terabaikan. Hal ini membuktikan terjadinya kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah. Menyadari kenyataan seperti ini para ahli berupaya untuk mencari dan merumuskan strategi yang dapat merangkul semua perbedaan yang dimiliki oleh anak didik. Strategi pembelajaran yang ditawarkan adalah strategi critical incident (pengalaman penting).
Pembelajaran critical incident (pengalaman penting) tampaknya telah menjadi pilihan utama dalam praktik pendidikan saat ini. Di Indonesia, gerakan pembelajaran aktif ini terasa semakin mengemuka bersamaan dengan upaya mereformasi pendidikan nasional, sekitar akhir tahun 90-an. Gerakan perubahan ini terus berlanjut hingga sekarang dan para guru terus menerus didorong untuk dapat menerapkan konsep pembelajaran aktif dalam setiap praktik pembelajaran siswanya. Beberapa kalangan berpendapat bahwa inti dari reformasi pendidikan ini justru terletak pada perubahan paradigma pembelajaran dari model pembelajaran pasif  ke model pembelajaran aktif.
Hasil belajar siswa atau prestasi belajar siswa akan diperoleh setelah siswa menempuh proses atau pengalaman belajarnya. Pengalaman belajar (learning experience) merupakan suatu proses kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Proses kegiatan belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh alternatif strategi mengajar para guru. Strategi pembelajaran dapat ditetapkan oleh guru dengan memperhatikan tujuan dan materi pembelajaran. Pertimbangan pokok dalam menentukan metode pembelajaran terletak pada keefektifan proses pembelajaran. Tentu saja orientasi kita adalah kepada siswa belajar. Jadi, strategi pembelajaran yang digunakan pada dasarnya hanya berfungsi sebagai bimbingan agar siswa belajar. Sehubungan dengan hal tersebut strategi mengajar yang digunakan oleh guru hendaknya bervariasi sesuai dengan tujuan dan materi yang diajarkan. Dengan strategi yang bervariasi inilah siswa akan bersemangat dalam belajar secara inovatif dan kreatif. Strategi yang digunakan dalam interaksi belajar mengajar merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dan kelancaran proses pembelajaran.
Pembelajaran pada dasarnya membahas pertanyaan: apa, siapa, mengapa, bagaimana, dan seberapa baik tentang pembelajaran. Pertanyaan apa berkaitan dengan isi atau materi pembelajaran. Pertanyaan siapa berkaitan dengan guru dan siswa sebagai subjek dari kegiatan pembelajaran.[[16]] Bagaiamana kualifikasi, kompetensi, dan perilaku seorang guru yang lebih baik. Bagaimana cara memotivasi siswa untuk belajar. Bagaimana guru membangkitkan partisipasi siswa sehingga dapat mengembangkan potensi individunya secara optimal. Pertanyaan mengapa berkaitan dengan penyebab/alasan dilakukannya proses pembelajaran. Pertanyaan bagaimana berkaitan dengan proses pembelajaran yang lebih baik. Bagaimana guru menciptakan proses pembelajaran yang relevan dengan kehidupan siswa di masa kini dan masa mendatang. Bagaimana strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang dapat membantu siswa belajar lebih baik. Pertanyaan seberapa baik berkaitan dengan proses pembelajaran, yaitu sejauh mana guru mengajar dan siswa belajar. Seberapa mampu guru merencanakan dan mengimplementasikan proses pembelajaran di kelas dan mendapat umpan baliknya berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran.
Upaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pembelajaran. Dalam perbaikan proses pembelajaran ini peranan guru sangat penting, yaitu menetapkan strategi pembelajaran yang tepat. Strategi pembelajaran dapat ditentukan oleh guru dengan memperhatikan tujuan-tujuan materi pembelajaran. Pertimbangan pokok dalam menentukan strategi pembelajaran terletak pada keefektifan proses pembelajaran.

Definisi Strategi Belajar Critical Incident
Strategi pembelajaran pada dasarnya adalah suatu siasat yang digunakan guru untuk mengantarkan materi kepada peserta didik dengan tujuan materi yang akan disampaikan akan mudah diterima, dipahami dan akan terus melekat pada peserta didik. Untuk mewujudkanya, maka proses belajar mengajar hendaknya lebih mengajak siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi antara individu dan lingkunganya.[[17]]Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan peserta didik.[[18]]
Berdasarkan pengertian yang dikemukakan oleh para ahli mengenai belajar, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku dalam kegiatan yang bernilai edukatif, antara guru dengan peserta didik.
Agar kegiatan belajar mengajar lebih optimal serta dapat melibatkan siswa berperan aktif didalamnya maka seorang guru perlu menggunakan strategi yang tepat dalam setiap proses pembelajaran.
Banyak pendapat para ahli yang mendefinisikan strategi belajar mengajar dengan berbagai istilah dan pengertian yang berbeda seperti pendapat T Rakajoni, yang dikutip oleh Sunhaji: “Strategi belajar mengajar sebagai pola umum pembuatan guru-murid di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajajar”.[[19]]
Joyce dan Weill mengatakan bahwa strategi belajar mengajar sebagai model-model mengajar. Strategi Pembelajaran diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru-anak didik dalam perwujudan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.[[20]] Strategi belajar-mengajar adalah pola umum perbuatan guru-murid di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Pengertian Strategi dalam hal ini menunjuk pada karakteristik abstrak dari rentetan perbuatan guru-murid dalam peristiwa belajar mengajar.[[21]]
Dari pengertian beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan yang menggunakan teknik atau cara dalam interaksinya dengan peserta didik untuk mencapai  tujuan pembelajaran.
۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغۡ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ وَإِن لَّمۡ تَفۡعَلۡ فَمَا بَلَّغۡتَ رِسَالَتَهُۥۚ وَٱللَّهُ يَعۡصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٦
. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya


Langkah-langkah Strategi Belajar Critical Incident
Critical Incident Tecnic (CIT) atau pengalaman penting adalah satu cara yang digunakan untuk mengumpulkan pengamatan langsung perilaku manusia secara kritis dan prosedural yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.[[22]] Pengamatan ini kemudian disimpan melacak sebagai insiden, yang kemudian digunakan untuk memecahkan masalah praktis dan mengembangkan prinsip-prinsip psikologis secara luas. Sesuatu kritik insiden dapat digambarkan sebagai salah satu hal yang memberikontribusi positif maupun negatif yang signifikan terhadap  aktivitas atau fenomena. Insiden kritis dapat dikumpulkan dalam berbagai cara, tetapi biasanya responden diminta untuk bercerita tentang pengalaman yang mereka miliki. Menurut Wina Sanjaya: Critical Incident Tecnic (CIT) adalah carafleksibel yang biasanya bergantung pada lima hal penting, yaitu:
1.         Menentukan dan mengkaji kejadian.
2.         Pencarian fakta, yang melibatkan pengumpulan rincian insiden dari para peserta.
3.         Mengidentifikasi isu-isu.
4.         Membuat cara untuk menyelesaikan masalah berdasarkan solusi berbagai kemungkinan.
5.         Evaluasi, yang akan menentukan apakah solusi yang terpilih akan menyelesaikan akar penyebab situasi dan tidak akan menyebabkan masalah lebih lanjut. [[23]]
Teknik Critical Incident (CIT), dalam pembelajaran sangat cocok disinergikan pada stategi pembelajaran kontektual (CTL) dengan metode tanya jawab dan diskusi. Dalam pembelajaran fiqih cocok digunakan pada materi-materi yang bersifat pemahaman yang berhubungan dengan realita sosial, seperti memahami tentang ibadah sholat fardhu.
Strategi ini digunakan untuk memulai pelajaran. Tujuan dari penggunaan strategi ini adalah untuk melibatkan siswa sejak awal dengan melihat pengalaman mereka. Adapun langkah-langkah untuk melaksanakan stretegi pembelajaran Critical Incident, sebagaimana  dikutip oleh Wina Sanjaya:
1.         Sampaikan kepada siswa topik atau materi yang akan dipelajari dalam pertemuan.
2.         Beri kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk mengingat-ingat pengalaman mereka yang tidak terlupakan berkaitan dengan materi yang ada.
3.         Tanyakan pengalaman yang tidak terlupakan menurut mereka.
4.         Sampaikan materi pelajaran dengan mengaitkan pengalaman-pengalaman siswa dengan materi yang akan disampaikan.[[24]]


Strategi ini digunakan untuk memulai pelajaran. Tujuan dari penggunaan strategi ini adalah untuk melibatkan siswa sejak awal dengan melihat pengalaman mereka.
Langkah-langkah pembelajaran:
1.      Sampaikan kepada siswa topik atau materi yang akan dipelajari dalam pertemuan.
2.      Beri kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk mengingat-ingat pengalaman mereka yang tidak terlupakan berkaitan dengan materi yang ada.
3.      Tanyakan pengalaman yang tidak terlupakan menurut mereka.
4.      Sampaikan materi pelajaran dengan mengaitkan pengalaman-pengalaman siswa dengan materi yang akan disampaikan.

Kelebihan dan Kekurangan Strategi Critical Incident
Setiap metode ataupun strategi pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, begitu pula strategi critical incident (pengalaman penting) juga mempunyai kelebihan dan kekurangan. Strategi critical incident mempunyai kelebihan dan kekurangan antara lain; strategi ini sangat cocok jika diterapkan untuk materi-materi yang bersifat praktis, tetapi strategi ini tidak cocok digunakan untuk materi yang bersifat

22 teoritis. Jadi strategi pembelajaran aktif critical incident bisa digunakan untuk materi-materi pembelajaran yang sifatnya praktis, dan tidak cocok untuk materi yang sifatnya teoritis. Selain itu strategi ini juga mempunyai kelebihan yaitu untuk mengaktifkkan siswa sejak dimulainya pembelajaran. Strategi ini baik digunakan untuk tujuan pembelajaran yang mengajarkan peserta didik untuk lebih berempati. Kekurangannya strategi ini biasanya hanya digunakan untuk kelas dengan jumlah yang sedikit dan tidak terlalu banyak agar siswa tidak malu untuk mengungkapkan pengalamannya. Selain itu kekurangan dari strategi pembelajaran aktif ini yaitu hanya mampu mengaktifkan siswa diawal proses pembelajaran saja, sedangkan ditengah dan diakhir proses pembelajaran masih didominasi oleh peran guru dalam menjelaskan materi, untuk itu ada baiknya penggunaan strategi pembelajaran aktif ini di gabungkan dengan strategi pembelajaran aktif lain, sehingga siswa bisa lebih aktif lagi baik diawal maupun diakhir proses pembelajaran. Penggabungan strategi pembelajaran aktif ini bisa digunakan untuk membuat suasana belajar di dalam kelas yang menyenangkan karena peran siswa lebih banyak dibandingkan guru, karena dalam pembelajaran aktif peran guru hanya sebagai fasilitator.









[[1]] Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1989), hlm. 81.
[[2]] Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), edisi revisi, hlm. 85.
[[3]] Mulyani. S dan Johar Permana, Strategi Belajar Mengajar, (JATENG: DEPDIKBUD Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 1999), hlm. 151.
[[4]] Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 165.
[[5]] Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid 29, (Beirut: Dar al-Maraghi, t.th.,), hlm. 150.
[[6]] Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, terjemahan, (Semarang: Toha Putra, 1989), hlm. 244.
[[7]] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, op. cit, hlm. 87.
[[8]] Mulyani, op. cit, hlm. 152
[[9]] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, loc. cit.,  
[[10]] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 198.  
[[11]] Syaiful Bahri Djamarah,dan Aswan Zain, op. cit, hlm. 86

[[12]] Arief Armai, op.cit, hlm. 167
[[13]] Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Misaka Galiza, 2003), hlm. 13
[[14]] Zuhirini, dkk, loc. cit
[[15]] Zuhairini, dkk, op. cit, hlm.84

[16] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), h. 250
[17] Oemar Hamalik. Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar. (Bandung : Tarsito. 1991).hlm.4
[18] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar-Edisi Revisi. (Jakarta: PT Rineka Cipta. 2002).hlm.1
[19]  Hamalik. Ibid. hlm.6
[20] Djamarah. Ibid.hlm.5

[21] Hasibuan, J.J & Moedjiono. Proses Belajar Mengajar. (Bandung : PT Remaja
Rosdakarya. 1986).hlm.3
           [22] Ibid. h.25
[23] Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran. (Jakarta : Kencana. 2007). hlm.23

[24] Ibid. hlm.25